PERTARUNGAN

/
0 Comments



Tahun 1960, Solo Jawa Tengah, Terletak di desa Tengklik Watubonang, di desa tersebut terdapat sebuah permainan yang sudah turun-temurun di kalangan anak-anak sejak dahulu, nama permainan tersebut adalah JOTOSAN, permainan tersebut bertujuan untuk merebut dan mempertahankan wilayah kekuasaan musuh dalam permainan tersebut untuk merebut wilayah kekuasaan harus mengalahkan pemimpin dari wilayah nya terlebih dahulu,willayah desa tengklik di pimpin oleh seseorang yang bernama PARNO,

PARNO memiliki 3 komandan dan masing-masing komandan tersebut mempunyai anggota nya masing-masing
Komandan pertama Lastri komandan wanita yang akan turun tangan jika ada masalah besar , meskipun wanita tetapi Lastri yang terkuat diantara komandan lain nya, memiliki 2 anggota, tidak bertugas menjaga desa tetapi bertugas menjaga pemimpin mereka. Dan disebut sebagai Jantung pertahanan.
Komandan kedua Plonco, merupakan tangan tangan  PARNO, memiliki 3 anggota, kelompok ini bertugas menjaga desa di bagian barat

Komandan ketiga bernama GLINDENG,memiliki 4 anggota, GLINDENG merupakan tangan kiri dari PARNO dan bertugas menjaga desa di bagian timur

Komandan kempat bernama SUYENG, memiliki 8 anggota, kelompok ini dianggap sebagai ekor, sekaligus kelompok paling lemah yang berada di bawah kekuasaan PARNO, kelompok ini bertugas menjaga desa di bagian selatan.
Permainan ini memiliki aturan, antara lain adalah sebagai berikut:
1.pertarungan dilakukan dengan cara berduel.
2.dilarang menggunakan benda tajam.
3.dalam duel terdapat dua pilihan, Tinju atau gulat.
4.musuh kalah bila pihak menyerah.
5.pihak yanng kalah wajib mengikuti perintah dari pihak pemenang.
Struktur Desa-desa yang ada di wilayah tersebut
1.Desa Watubonang, terletak pada bagian Utara
2.Desa WatuLumbong, terletak pada bagian Barat
3.Desa Sidowayah,terletak pada bagian Timur
4.Desa kallimangir,Terletak pada bagian Selatan

Dari keempat desa tersebut, desa yang terkuat dan ditakuti adalah
1.Desa Sidowayah
2.Desa Watubonang
3.Desa Watulumbung
4.Desa Kalimangir
*Desa Watulumbung dipimpin oleh Suro Percil dan memiliki 2 komandan dan komandan tersebut memiliki anggota nya masing-masing sama hal nya Desa Watubonang
-Pertama Komdan Karso memiliki 9 anggota dan  menjaga daerah barat, (Desa Watubonang)
-Komandan Kedua Timen memiliki 4 anggota dan menjaga daerah Timur (Desa Kalimangir)
-komandan ketiga Marno memiliki 3 anggota tidak menjaga desa melainkan sebagai mata-mata.

Orang-orang dewasa hidup rukun, namun anak-anak mereka tidak seperti para orang dewasa tersebut, mungkin sebagian dari mereka sudah merasakan yang namanya mempertahankan negara dari pasukan kolonial belanda, jadi mereka sadar, mereka harus hidup rukun agar tidak terjadi kembali kejadian yang membuat perpecahan.Sehabus pulang bekerja, kebanyakan dari mereka putus sekolah diakibatkan himpitan ekonomi, diumur mereka yang seharusnya mereka masih mengenyam pendidikan, mereka justru bekerja serabutan demi melanjutkan kehidupan mereka.

Parno adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, enam saudara wanita dan hanya Parno anak lelaki satu-satu nya, dalm kehidupan Parno, Parno harus putus bersekolah dan bekerja serabutan demi membantu kehidupan keluarga nya, akibat banyak nya saudara dan satu-satu nya lelaki di keluarga Parno, ayah Parno mewajibkan Parno untuk bekerja dan memenuhi kehidupan adik-adik nya. Begitupun teman parno banyak dari mereka yang putus sekolah dan memilih bekerja tetapi ada juga sebagian kecil dari mereka yang tetap bersekolah.

Sepulang bekerja  Parno dan sekutunya langsung menuju markas yang mereka buat, dan mengawasi gerak girik desa lain yang mungkin saja masuk ke desa untuk membuat kekacauan seperti hal nya mencuri hasil panen dari warga atau kekacuan lainnya. Banyak musuh dari desa lain yang berulah ketika mereka bekerja dan ada sebagian yang bersekolah. Contoh nya kami mendapat laporan dari arah Barat, kami memperkirakan ini adalah ulah anak-anak dari desa Watulumbung, laporan tersebut mengatakan adanya yang mencuri buah-buahan Warga yang jumlah nya lumanyan banyak.

Sehingga  Keesokan harinya setelah pulang bekerja, sebagai rasa tanggung jawab mereka , yang bekrja mengawasi musuh di bagian barat, Plonco dan 3 anggota nya menumui komandan ketiga pertama desa Watulumbung, yaitu komandan Karso dengan 9 anggota, yang bertugas menjaga perbatasan desa antara Tariwongso dan Watubonang
Setelah melalu pembicaraan yang panjang tiada hasil, akhirnya kedua komandan sepakat untuk melakukan pertandingan tetapi komandan karso memilih bertanding gulat, akan tetapi komandanPlonco menolak dan lebih memilih adu jotos, karena melihat badan dari komandan karso yang besar, dan berfikir jika mereka melakukan pertandingan gulat akan menjadi pembantain sepihak bagaikan semut lawan gajah, komandan Karso berfikir sejenak, dia khawatir karena komandan Plonco terkenal karena kelincahan nya, akhirnya komandan Karso menyuruh salah satu anggota nya memberitahukan masalah ini kepada pemimpin desa Tariwongso, dan menunggu perintah dari pempimpin mereka.
Akhirnya pemimpin dari kedua desa menyetujui karena perebutan wilayah harus di saksikan langsung oleh masing-masing pemimpin yang bersangkutan, Pertandingan di laksakan di sebuah lapangan yang besar yang masih penuh dengan batukrikil, pertarungan kali ini menggunakan sistem gulat dan tinju.

Dalam pertarungan kali ini memiliki beberapa aturan, diantara nya adalah
1.dilarang menggunakan senjata
2.dilarang melakukan tendangan
3.dilarang memasuki arena kecuali yang bertarung
5.dilarang memberikan saran ataupun masukan ke pada kedua belah pihak

Akhirnya pertarungan di mulai, terlihat komandan Karso lebih mendominasi, dengan badan yang besar komandan Karso mendapat keutungan yang sangat besar, selain arena yang digunakan karena masih berlaskan Batu krikil, komandan Karso dapat dengan mudah membanting komandan Plonco, terlihat darah pada bebarapa bagian tubuh komandan Plonco, terutama pada bagian punggung dan tangan, akbiat hempasan dari komandan Karso yang langsung menuju di bebatuan. Setelah lumayan lama berfikir akhirnya komandan Plonco mendapatkan ide untuk mengalahkan komandan Karso, komandan Plonco berlari memutari arena lapangan, komandan karso hanya berdiri di tengah dengan wajah kebingungan, komandan Plonco tetap berlari sambil mengejek komandan Karso agar terpancing dan mengajar nya, akhirnya rencana komandan Plonco sukses, belum sampai beberapa menit, komandan Karso sudah kehabisan tenaga dan disini lah komandan Plonco mulai melancarkan serangan nya yang tanpa ampun tinjuan dari komandan Plonco bersarang ke tubuh komandan Karso hingga membuat komandan Karso mengakui kekalahan nya.

Akhirnya desa Watubonang berhasil merebut wilayah perbatasan, dan pemimpin desa Watulumbung Suro tidak menerima wilayah yang dianggap nya sangat penting direbut begitu saja, pemimpin Suro bersikeras untung mempertahankan wilayah ini, karena wilayah ini sebagai jalur utama menuju desa Watubonang dan Sidowayah , karena mereka juga menganggap Desa Kalimangir ,desa yang paling tenang diantara desa tetangga lainnya, Desa tersebut tidak pernah menyerang desa lain, mereka hanya bertahan, desa Kalimangir dikenal dengan sebutan desa elit. Akhirnya pemimpin desa Watulumbung Suro Percil, menantang langsung pemimpin desa Watubonang dan mengatakan kalau saya kalah kalian bisa menguasai wilayah Watulumbung, dan kalau kami menang kami menguasai wilayah Watubonang.

Parno tanpa pikir panjang menerima nya karena ini merupakan keuntungan yang sangat besar,Parno sangat yakin dia akan menang, Statistik membuktikan Parno belum pernah terkalahkan sekalipun dalam pertarungan, Parno mempersilahkan pemimpin Suro Percil mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut tentang pertarungan. Keesokan harinya anak buah dari Suro Percil datang menyampaikan pesan.

Lokasi: Lapangan yang berada di desa Kalimangir
Waktu: setelah shalat azhar
Peraturan: -  Model pertarungan dilakukan secara Adu Jotos
          - Tidak diperbolehkan senjata tajam,kaki,dan gulat
          - setiap komandan diperbolehkan melakukan pertarungan

akhirnya semua sudah berkumpul di lapangan tersebut, Suro Percil membawa semua pasukan nya yang berjumlah 19 orang, sedangkan Parno hanya membawa 4 komandan nya. Terlihat Suro Percil pun sudah menunggu di tengah lapangan, para komandan ternyata tidak ada yang ingin bertarung sama sekali, akhirnya pertarungan keduanya dimulai, terlihat Suro Percil, sudah memasang kuda-kuda andalan nya yang berarti dia sudah serius, biasanya Suro sangat meremehkan lawan-lawan nya, Suro pun langsung memberikan serangan bertubi-tubi tetapi serangan tersebut dapat di hindari dengan mudah oleh Parno, gaya bertarung Parno terkenal sangat santai dan langsung menyerang ke titik lemah. Semua serangan Suro tidak ada satupun yang masuk ke tubuh Parno, hingga tiba saat nya Parno langsung mendaratkan serangan ke jidat Suro Percil menggunakan telapak tangan nya. Seketika Suro Percil langsung terjatuh kemudian Parno langsung mengunci pergerakan nya, hingga akhirnya Suro Percil menyerah.


Akhirnya Suro Percil dan sekutu mengalami kekalahan dan harus merelakan wilayah nya dikuasai, sehingga mereka semua tidak berani melawan, karena sudah menjadi peraturan dalam permainan kali ini bagi siapa yang kalah wajib mengikuti perintah dari pihak pemenang. Sekarang perbandingan kami sama mereka bagaikan, Pembantu dan majikan, mereka semua mempermudah
pekerjaan kami, hingga suatu saat salah satu anggota dari komandan Glindeng, mendengar berita tentang desa Sidowayah yang bersekutu dengan desa Watulumbung untuk menghancurkan desa Kalimangir, desa Kalimangir dikenal kuat dalam bertahan bahkan semua desa pernah mencoba menyerang nya tetapi penyerangan tersebut tidak ada yang berhasil. Desa Watubonang mengirimkan komandan Suyeng untuk mengirimkan pesan tersebut ke desa Kalimangir, dan kalau butuh sesuatu desa kami siap membantu, tetapi desa Kalimangir ingin menyelesaikan masalah ini sendiri.
Desa Kalimangir dipimpin oleh seseorang yang bernama Daliman, sejak dahalu keluarga Daliman dahulu ayah dari Daliman adalah Jakam dan sangat ditakuti, bahkan ayah Parno dikalahkan dengan mudah,tidak seperti ayah nya yang senang menguasai desa lain,Daliman justru hanya lebih memperkuat desa dan disebut dengan desa terkuat, Sidowayah juga pernah mencoba menyerang desa Kalimangir dengan membuat pasukan sekutu yang berjumlah 3 desa tetapi usaha tersebut sia-sia, desa Kalimangir tidak memiliki komandan sama sekali, karena Daliman menganggap kita semua sama saja, kita semua adalah teman, tetapi yang paling sering berada di dekat Daliman adalah, Wegig dan Giman.

NOTE: BACA KELANJUTAN CERITA NYA DIPOSTINGAN BERIKUT NYA //tulisancoffee.blogspot.co.id/2017/05/pertarungan-ii.html?m=1


You may also like

Tidak ada komentar: